Minggu, 26 April 2015

Kidung Pusara



Sejengkal demi jengkal tanah ini terus ku telusuri, pandanganku kosong tak ku hiraukan kanan kiri sekelilingku. Pandanganku pun tertunduk lesu. Air mataku sudah di ujung pelupuk rupanya. Rayuan angin pagi dengan lembut membelai rambutku yang panjang. Gesekan dedaunan seolah bisikkan kata-kata sinis untukku. “Ahh...hidup ini hidupku dan yang harus aku juangkan sendiri” bisikku dalam hati. Bebatuan dan kerikil tajam sedang mengejekku, mengolokku, mereka tak suka padaku. Cara mereka menusukki telapak kaki sudah cukup menunjukkan kebencian mereka.
          Jalan yang sedang kutelusuri ini seolah asing dan sudah lama tak ku kunjungi semenjak 15 tahun yang lalu. Tak ada kata yang bisa ku ungkapkan. Aku benci di jalan ini, namun entah kenapa angin terus bujukkan rayuannya kepadaku agar ku kembali ke jalan ini. Sepanjang jalan ini dan sejengkal demi jengkal tanah ini ku telusuri tak ada yang menyapa diriku. “Kenapa ...mengapa kau bawa aku kembali ke jalan ini” tanyaku dalam hati. Hatiku seolah berontak tapi, kakiku terus saja menyeret hingga ku kembali ke jalan ini.
          Sang surya pun melirik sinis, mungkin sang suryapun enggan menatap wajahku. Wajahku memang tak secantik bidadari, “Hai sang surya??? Lihat wajahku...!!!! memang wajahku buruk tak secantik nona-nona yang baru saja selesai bersolek dari salon..atau anak-anak putri raja yang selalu ditemani para dayang-dayangnya...bajuku lusuh, rambutku lurus gimbal jarang disisir... sandalku hanya sandal jepit yang sudah mulai menipis.
          Memang hidup ini berat terasa ku jalani..hari-hariku pun suram...dari dulu kuharapkan sebuah keajaiban namun, harapan dan harapan itu pun kini telah sirna. Banyak yang mengatakan kumpulan dari harapan adalah keajaiban tapi aku tak yakin itu dan kini akupun enggan untuk berharap. Kehidupan ini sulit bagiku, cambukan keras yang kerap menghantam tubuhku. Tiba-tiba langkahku terhenti, tangisku membuncah deras aliri pipi ini. Kulihat pusara sang ibundaku dari balik semak. Pelukan hangat rumput yang memanjang, dedaunan kering selimuti tubuh ibuku hampir menutupi dan tak terlihat lagi hanya nisan ibu yang masih berdiri kokoh.
          Semenjak kepergian beliau aku sebatang kara di dunia ini “entah kenapa kuingat kembali masa suram itu” pikirku. Kutatapi pusara ibu dan terus kupandangi namun tubuhku terasa berat untuk bersimpuh dan mendoakan beliau. Tubuhku gontai tuk mendekati pusara ibu. Aku malu pada ibuku, aku merasa tak berguna di hadapn beliau, 15 tahun sudah ku tak lagi datang bersimpuh dan mendoakannya. “Anak macam apa aku ini??? Pikirku keras”. Dengan tubuh gontai ini aku mendekat, kupeluk erat tubuh beliau dalam dekapan tanah yang menggundu. “Ibu... ibu...ibu... isakan tangis dan rintihanku penuhi alam bawah sadarku.” Ku rindukan dekapan hangatmu, ku rindukan senyummu yang mampu buatku bangkit tatkala diriku goyah. “Aku rindu ibu...ibu.. ku ingin hari-hari ku seperti dulu, bisikku pada rerumputan yang menjulang tinggi”.
          Saat ku menatap cakrawala pagi ini ukiran ke elokkan cakrawala pamerkan ukiran-ukiran awan yang indah bak istana yang penuh akan barang-barang mewah dan antiknya. Namun, kulihat sang surya masih sinis menatap ke arahku sinarnya buat kulit ku terbakar di sepanjang hari-hari yang ku lalui. Kicauan burung bersahut-sahutan seolah saling membicarakanku. Ku peluk erat pusara ibu, kini nisan dan tanah ini basah akan tangisan pagiku. Lantunan do’a ku persembahkan untukmu ibundaku. Ma’afkan aku ibu, ma’afkan segala khilafku padamu wahai ibuku yang kusayang.
          Aku sadar ku belum mampu dan sanggup menjadi apa yang engkau harapkan. Puluhan tahun aku berkelana mencari jati diri ini. Tak hanya satu atau dua orang saja yang sering kali ejek aku. Aku harus mampu menghadapi cobaan hidup yang pelik ini. “Tuhan.. sayangi ibuku, jagalah dia, ampuni segala kesalahan dan dosa-dosanya” ku bisikkan dan ku ciumi nisan ibu. Sebelum kupergi tinggalkan pusaramu ibu, “aku akan berusaha menjadi apa yang engkau harapkan, apapun itu dan sesulit apapun itu aku yakin mampu mewujudkan cita-cita luhurmu ibu, janjiku pada ibu”.
          ”Ibu... aku akan kembali ke jalan ini, kan ku tunjukkan pada dunia aku mampu... mampu berdiri tegak .. mampu songsong hariku dengan senyummu yang selalu ingatkanku arti sebuah rasa syukur, dan untuk mereka yang memandang sebelah mata padaku, cukup ku tunjukkan kesuksesan bukan untuk mereka saja yang mampu namun, aku bisa, janjiku pada ibu”. Aku mulai berdiri, kuseka air mataku dan ku langkahkan kaki ini tanpa keragu-raguan. Aku akan telusuri jalan setapak ini dengan angin yang rayukan lembut, sang surya yang takkan lagi menatap sinis dan kicauan burung yang kan bersorak ramai kagum akan diriku.     
             (Tujuh tahun kemudian) ...
          Kini ku tak lagi telusuri jalan ini sendiri, dan janjiku telah ku tepati, setiap orang yang berada di sekelilingku tak lagi memandangku dengan pandangan sinisnya. Suara orang tak gaduh ejekkanku tapi mereka kagum akan apa yang ku raih sekarang.
“Anakku disinilah ibu tumbuh disinilah ibu berasal dan disini pulalah impian dan harapan ibu terkumpul dan kini semua itu bisa terwujud, mungkin dulu ibu hanyalah orang pinggiran dan pernah benci akan harapan, tapi untukmu duhai anakku teruslah bermimpi dan berharap kita sebagai manusia tak tahu kapan Tuhan anugerahkan keajaiban itu, nasehatku pada anakku”.
          Kutunjukkan kunci suksesku padamu anakku, kidung ibuku dan restu beliaulah ibu kini mampu mewujudkan semua. “ibu... ku penuhi janjiku tujuh tahun yang lalu... kini harapan dan cita-cita ibu mampu dan bisa ku raih. Kini ku dapat tersenyum lega akan janji yang pernah ku ucapkan kemarin di pusara ini di tempat ini sebuah keajaiban terjadi. “Ibu kini dunia yang dulu begitu kejam dan keras telah mengajarkanku akan arti sebuah perjuangan dan kerja keras. Terima kasih ibu, terima kasih akan kasih sayangmu yang tulus yang engkau berikan.
· Ibu..Ibu..Ibu.. ingatlah selalu ibumu dalam langkahmu
· Jangan pernah membentak atau mencerca beliau
· Beliau yang melahirkanmu, menaruhkan jiwanya
· Jangan bosan akan nasehat beliau walaupun bagimu itu hal tak menyenangkan (teriakan,nasehat, adalah kidung indah untukmu)
Bayangkan....
· Ketika ibumu sudah tiada takkan ada lagi yang mengingatkanmu, tak ada yang dapat kau panggil ibu
· Takkan ada yang menatapmu, takkan ada yang membelai lembut rambut ketika matamu terpejam

“Surga di telapak kaki ibu”
 


           

                     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar